Namaku Dian Lestari, lebih kerap disapa Dian/Diles/Ari. Aku terlahir dari keluarga yang bisa dibilang masih awam dengan Islam. Oleh karenanya, aku jarang dan hampir tak pernah mengenakan pakaian panjang dan juga hijab. Aku tipikal yang tomboy. Aku lebih suka mengenakan kaos lengan pendek yang longgar dan celana. Aku jarang sekali yang namanya memakai rok, gamis ataupun hijab. Mungkin dalam satu tahun itu bisa dihitung dengan jari. Ya, aku mau memakai hijab itu saat ada acara-acara tertentu saja. Seperti acara maulid nabi di sekolah atau hanya saat lebaran saja.
Namun semuanya mulai berubah saat aku kelas IX. Waktu itu, ujian praktek seni budaya menuntut agar setiap kelas membuat pagelaran kelas. Yang dimana, isi dari acara itu diserahkan pada masing-masing kelas. Terserah mau apa saja isi acaranya, guru seni tak ikut campur sama sekali. Kebetulan kelasku merencanakan banyak sekali ide untuk isian acara pagelaran itu. Salah satunya tampilan grup rebana dan gema sholawat.
Sebagai ketua kelas, aku berhak untuk memilih acara mana saja yang ingin aku ikuti. Dan karena aku tipikal orang yang senang dengan hal-hal baru, aku akhirnya memilih untuk ikut grup rebana dab grup sholawat. Awalnya sih ya seneng aja gitu tiap sore latihan rebana di rumah salah satu kakak kelas yang punya alat-alatnya. Tapi lama kelamaan jadi agak malu. Ya, malu karna disitu hanya aku yang tak mengenakan hijab. Dari situ aku mulai berpikir dan memunculkan niat untuk mengenakan hijab. Walaupun, kenyataannya sampai pagelaran itu berakhir pun aku masih tak mengenakan hijab.
Pagelaran sudah selesai, ujian nasional pun sudah selesai. Sama seperti siswa-siswi lain, aku pun mulai memikirkan kemana akan melanjutkan studi SMA ku. Sampai akhirnya aku tertuju pada salah satu SMK Negeri yang terkenal di daerahku. Aku coba mendaftarkan diriku disana. Aku mengambil jurusan Teknik Otomotif. Tapi Allah memiliki rencana lain. Aku tidak diterima di sekolah itu karena tinggi badanku yang kurang dari kriteria jurusan itu. Aku mencoba belajar sabar, tapi nyatanya itu tak bisa ku lakukan. Setiap malam aku menangis karena hal itu. Bahkan sempat berpikiran bahwa Tuhan tidak adil padaku. Tapi alhamdulillah ibuku menenangkanku. Ibu bilang sekolah bagus tidak hanya disitu saja, masih banyak sekolah-sekolah lain yang bagus. Dari situ aku mulai sadar dan mulai meyakinkan diriku bahwa mungkin jalan suksesku bukan lewat itu. Mungkin di jurusan lain atau mungkin di sekolah lain dengan jurusan yang sama.
Di hari berikutnya ibuku menyuruhku untuk mencoba mencari sekolah yang tepat untukku. Mungkin bisa dibilang SMA/SMK di seluruh Brebes sudah aku kelilingi. Sedikit lebay sih emang, tapi ya memang begitu kenyataannya. Tidak diterima di satu sekolah membuatku hampir frustasi, dan untuk menghilangkan frustasi itu ya caranya dengan berkeliling sendiri mencari sekolah yang ku rasa tepat untukku. Sampai akhirnya mataku terpana pada sekolah dengan gedung serba hijau. Ya, salah satu SMK Kesehatan yang akhirnya aku menjadi salah satu siswi disana. Berkelut didunia kesehatan memang tak pernah menjadi impianku dan tak pernah ada dibayanganku sebelumnya, tapi aku belajar mengikuti kata hatiku untuk bersekolah disana.
Menjadi siswi di sekolah yang berbasis Islami itu menuntutku untuk mengenakan pakaian yang serba panjang dan juga berhijab. Rutinitas pagi seperti Sholat Dhuha, Zikir pagi, dan juga tilawah pun lama kelamaan menjadi hal yang biasa bagiku. Sampai akhirnya guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolahku memberikan selembar kertas pada setiap siswa. Ya, kertas itu berisi muhasabah diri. Yang dimana setiap siswa dinilai kejujurannya. Awalnya aku tak pernah jujur tentang berhijab ketika diluar sekolah yang tak pernah ku lakukan. Sampai aku berada di titik malu terhadap diriku sendiri dan memutuskan untuk memantapkan hijabku.
Masya Allah.. hebat sekali.. sudah hijrah di usia yang sangat muda. Semoga istiqomah ya... salam kenal
BalasHapusSalam kenal juga bun❣
Hapus