Followers

Kamis, 05 September 2019

Berkah

         11 April 2016, tepat tiga hari setelah ujian nasional tingkat SMA/SMK berakhir, aku memberanikan dirku untuk hijrah ke luar kota. Tagerang, kota yang pertama kali menjadi pijakan karirku. Aku diterima disalah satu Rumah Bersalin dan Klinik disana. Menempati posisi sebagai seorang Analis Laboratorium dengan usia termuda tentunya. Aku bersyukur karena bisa mendapatkan pekerjaan secepat itu. Aku juga sangat nyaman dengan lingkungan disana. Terlebih lagi, Islam begitu diutamakan ditempat itu. Ya, tempat seperti itu memang sangat cocok untukku yang masih sangat awam dengan Islam. Namun, kenyamanan itu tak bertahan lama. Aku hanya bertahan tiga bulan bekerja di tempat itu. Meskipun sejujurnya aku masih sangat betah bekerja disana. Problem di tempat kerja yang membuatku harus RESIGN dari sana. Kedengarannya lucu memang, keluar dari tempat kerja hanya karna sebuah problem dengan rekan kerja. Berkali-kali sabar itu sudah coba ku lakukan, tapi aku tetap tak bisa kuat. Sebagai anak kecil yang baru memasuki dunia pekerjaan, aku tak kuat dengan tekanan-tekanan itu. Terlebih lagi tekanan itu tak masuk di akal. Bagaimana bisa masuk akal, aku ini bekerja sebagai analis laboratorium. Yang mana jika tidak ada jarum suntik itu aku tidak bisa mengerjakan sesuatu. Ya, waktu itu problemnya adalah jarum suntik yang disembunyikan oleh rekanku.  
   
      Setelah tiga bulan bekerja disana aku memutuskan untuk resign. Aku memilih untuk pulang ke Brebes terlebih dahulu. Sebelum akhirnya dua minggu setelah aku resign dari sana aku mendapatkan pekerjaan baru di Tangerang lagi. Di sebuah klinik kecil di daerah yang menurutku sangat jauh dari pusat kota. Di klinik itu pun aku tak bertahan lama, hanya sekitar dua minggu aku bekerja disana. Resign dari klinik itu bukan tanpa alasan, fasilitas dan juga gaji yang tak sesuai dengan perjanjianlah yang membuatku undur diri dari sana. 

      Tak mau berdiam diri terlalu lama, setelah resign dari sana aku mulai menyebar lamaran pekerjaan ke berbagai rumah sakit dan klinik di Jakarta. Sampai akhirnya, aku diterima disalah satu rumah sakit besar di Jakarta Utara namun dengan syarat utama harus LEPAS HIJAB. Sedih dan bingung ku rasakan saat itu. Mengambil pekerjaan dengan penawaran gaji dan pengalaman yang cukup menjanjikan tetapi harus melepas hijab saat di tempat kerja atau mencari pekerjaan lain tapi belum tentu langsung diterima. Akhirnya aku meminta pendapat kedua orangtuaku jalan mana yang harus aku pilih terlebih dahulu. Dan mereka dengan berbagai pertimbangan akhirnya mengijinkanku bekerja di tempat itu.

     Satu tahun enam bulan aku menekuni pekerjaanku itu. Dan selama itu pula aku harus lepas pasang hijabku. Berangkat kerja memakai hijab dan sesampainya di tempat kerja harus melepasnya. Rasanya benar-benar sangat berat. Namun apa dayaku, aku harus melakukannya untuk mendapatkan pengalaman dan juga harapanku bisa kuliah itu terwujud. Ya, sebagai seorang anak yang terlahir dari keluarga kelas menengah ke bawah, aku harus bisa sendiri mewujudkan keinginanku itu sendiri. Aku tak mau merepotkan kedua orangtuaku lagi. Kala itu, yang ku pikirkan hanya bagaimana caranya bisa mengumpulkan uang untuk kuliah. Namun harapanku itu seketika pupus. Ketika manajemen rumah sakit yang sudah mulai jelek dan untuk pekerja yang tak memiliki gelar sepertiku ini diharuskan menanda tangani sebuah kontrak baru. Dimana, isi dari perjanjian kontrak itu kami yang tak memiliki gelar masa kerjanya dihitung lagi dari nol. Itu yang menjadi alasan utamaku mengundurkan diri dari sana. Ditambah lagi, kepala ruangan (sebut saja koordinator) disana tak kunjung membuatkan jadwal khusus untukku kuliah. Dari situlah aku memutuskan untuk benar-benar resign dari rumah sakit itu.

     Sebelum resign, aku sudah mencoba untuk melamar kerja di instansi-instansi lain. Sampai akhirnya, aku diterima disalah satu perusahaan yang bergerak dibidang obat-obatan dan kosmetik di daerah Jakarta Selatan. Ettss, tapi jangan salah paham dulu, aku tidak ditempatkan dibagian produksi atau sejenisnya, tapi lebih ke jadi SPG nya. Dari awal aku memang sudah ragu mau mengambil atau tidaknya. Tapi tak ada salahnya jika dicoba terlebih dahulu pikirku. Namun ternyata Allah memiliki rencana lain. Aku hanya bertahan disana selama dua bulan saja. Mungkin karena aku merasa pekerjaanku itu tidak berkah. Selama dua bulan aku disana sholat dhuhur dan ashar ku sering tertinggal. Istirahat hanya dibatasi 15 menit saja. Ya, 15 menit itu hanya cukup untukku makan ataupun sholat. Waktu itu, jika aku memilih sholat berarti aku harus merelakan makanku dan jika aku lebih memilih makanku maka sholatku harus ku tinggal.  Begitu pula dengan waktu ashar ku, yang sering ku tinggal demi customer yang datang saat itu.

Senin, 02 September 2019

Hijabku

    Namaku Dian Lestari, lebih kerap disapa Dian/Diles/Ari. Aku terlahir dari keluarga yang bisa dibilang masih awam dengan Islam. Oleh karenanya, aku jarang dan hampir tak pernah mengenakan pakaian panjang dan juga hijab. Aku tipikal yang tomboy. Aku lebih suka mengenakan kaos lengan pendek yang longgar dan celana. Aku jarang sekali yang namanya memakai rok, gamis ataupun hijab. Mungkin dalam satu tahun itu bisa dihitung dengan jari. Ya, aku mau memakai hijab itu saat ada acara-acara tertentu saja. Seperti acara maulid nabi di sekolah atau hanya saat lebaran saja.

    Namun semuanya mulai berubah saat aku kelas IX. Waktu itu, ujian praktek seni budaya menuntut agar setiap kelas membuat pagelaran kelas. Yang dimana, isi dari acara itu diserahkan pada masing-masing kelas. Terserah mau apa saja isi acaranya, guru seni tak ikut campur sama sekali. Kebetulan kelasku merencanakan banyak sekali ide untuk isian acara pagelaran itu. Salah satunya tampilan grup rebana dan gema sholawat.

    Sebagai ketua kelas, aku berhak untuk memilih acara mana saja yang ingin aku ikuti. Dan karena aku tipikal orang yang senang dengan hal-hal baru, aku akhirnya memilih untuk ikut grup rebana dab grup sholawat. Awalnya sih ya seneng aja gitu tiap sore latihan rebana di rumah salah satu kakak kelas yang punya alat-alatnya. Tapi lama kelamaan jadi agak malu. Ya, malu karna disitu hanya aku yang tak mengenakan hijab. Dari situ aku mulai berpikir dan memunculkan niat untuk mengenakan hijab. Walaupun, kenyataannya sampai pagelaran itu berakhir pun aku masih tak mengenakan hijab.

   Pagelaran sudah selesai, ujian nasional pun sudah selesai. Sama seperti siswa-siswi lain, aku pun mulai memikirkan kemana akan melanjutkan studi SMA ku. Sampai akhirnya aku tertuju pada salah satu SMK Negeri yang terkenal di daerahku. Aku coba mendaftarkan diriku disana. Aku mengambil jurusan Teknik Otomotif. Tapi Allah memiliki rencana lain. Aku tidak diterima di sekolah itu karena tinggi badanku yang kurang dari kriteria jurusan itu. Aku mencoba belajar sabar, tapi nyatanya itu tak bisa ku lakukan. Setiap malam aku menangis karena hal itu. Bahkan sempat berpikiran bahwa Tuhan tidak adil padaku. Tapi alhamdulillah ibuku menenangkanku. Ibu bilang sekolah bagus tidak hanya disitu saja, masih banyak sekolah-sekolah lain yang bagus. Dari situ aku mulai sadar dan mulai meyakinkan diriku bahwa mungkin jalan suksesku bukan lewat itu. Mungkin di jurusan lain atau mungkin di sekolah lain dengan jurusan yang sama.

  Di hari berikutnya ibuku menyuruhku untuk mencoba mencari sekolah yang tepat untukku. Mungkin bisa dibilang SMA/SMK di seluruh Brebes sudah aku kelilingi. Sedikit lebay sih emang, tapi ya memang begitu kenyataannya. Tidak diterima di satu sekolah membuatku hampir frustasi, dan untuk menghilangkan frustasi itu ya caranya dengan berkeliling sendiri mencari sekolah yang ku rasa tepat untukku. Sampai akhirnya mataku terpana pada sekolah dengan gedung serba hijau. Ya, salah satu SMK Kesehatan yang akhirnya aku menjadi salah satu siswi disana. Berkelut didunia kesehatan memang tak pernah menjadi impianku dan tak pernah ada dibayanganku sebelumnya, tapi aku belajar mengikuti kata hatiku untuk bersekolah disana.

   Menjadi siswi di sekolah yang berbasis Islami itu menuntutku untuk mengenakan pakaian yang serba panjang dan juga berhijab. Rutinitas pagi seperti Sholat Dhuha, Zikir pagi, dan juga tilawah pun lama kelamaan menjadi hal yang biasa bagiku. Sampai akhirnya guru mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di sekolahku memberikan selembar kertas pada setiap siswa. Ya, kertas itu berisi muhasabah diri. Yang dimana setiap siswa dinilai kejujurannya. Awalnya aku tak pernah jujur tentang berhijab ketika diluar sekolah yang tak pernah ku lakukan. Sampai aku berada di titik malu terhadap diriku sendiri dan memutuskan untuk memantapkan hijabku.